Jumat, 08 Januari 2010

Ada Apa dengan Para Wakil Rakyat Kita?

Kabar tentang para pembawa aspirasi rakyat membuat kita tercengang baru-baru ini. Ya, dua anggota dewan yaitu Gayus Lumbun dan Ruhut Sitompul bersitegang dalam rapat Panitia Khusus (Pansus) untuk kasus Bank Century. Sebuah adu mulut yang tak pantas dilontarkan oleh para elite politik, tak ada yang mengalah dari dua dewan dari partai yang selama ini kerap berseteru yaitu Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Demokrat.
Disaksikan oleh jutaan rakyat Indonesia dari layar televisi tidak membuat para dewan menghentikan “ocehan” mereka. Dari umpatan “suara setan” dari Gayus hingga berbalas “bangsat” dari si Poltak dari Medan itu. Walau kasus ini sedang diproses oleh Badan Kehormatan DPR tapi kasus ini membuat berdecak kagum pada kita semua, ternyata inilah pendidikan politik para elite untuk rakyat yaitu bertengkar dan berumpat kasar. Inikah gambaran nyata para pemangku kekuasaan negeri ini?
Ada cerita lain lagi dari para wakil rakyat ini yaitu cerita lucu di para dewan yang duduk di DPRD kota dimana saya tinggal. Seorang anggota dewan yang juga seorang kyai desa dengan polos bercerita kepada masyarakatnya jika dirinya yang baru saja terpilih dan belum seharipun bekerja sudah mendapat hantaran amplop berisi uang 60 juta. Luar biasa, ternyata negeri ini kaya uang ketika banyak rakyat kelaparan, tidur di pinggiran sungai dan emperan. Darimana uang itu? itulah pertanyaan yang terbesit dalam benak hati. Pantas saja jika kursi dewan diperebutkan oleh banyak orang di negeri ini ya?
Itulah sedikit gambaran dari para wakil kita, berperilaku tak pantas dan juga berkecimpung rupiah. Inilah para penyampai aspirasi kita, yang kita tak pernah tahu apa sebenarnya yang sedang mereka perjuangkan untuk rakyat. Para dewan hanya pintar mengampanyekan ketika pencalonannya tapi tak jarang banyak anggota dewan yang nihil dalam merealisasikan visi misinya ketika terpilihnya di kursi empuk DPR.
Sebenarnya siapa yang salah? Rakyat yang memilih atau mereka yang yang terpilih ketika yang terjadi seperti ini? Apakah mungkin selama ini kita memilih para wakil kita bak membeli kucing dalam karung? Karena yang terpilih sekarang banyak dewan yang tak pantas menjadi pengemban kepercayaan rakyat. Semoga ke depan kita menjadi lebih pintar dan bijak dalam memilih siapa wakil kita yang benar-benar menyuarakan suara rakyat. Semoga.

Buku Harian BAIM: Suplemen Tontonan Sehat Untuk Anak

Kemarin sore tepatnya hari Kamis (07/01/2009) secara tidak sengaja ikut menonton sinetron anak di stasiun televisi SCTV, sambil menemani keponakan yang sudah punya ketertarikan hati pada sinetron ini. Saya mencoba mencari keistimewaan dari sinetron ini dengan ikut nimbrung duduk di depan TV bersama keponakan.
Cerita si Baim disaat episode yang saya tonton adalah tentang si Baim yang sedang mencari surga yang diceritakan si bunda, yang diperankan oleh Inneke Koesherawati. Ada cerita lucu dan menggelitik hati saya disini, karena akhirnya Baim mengajak dua temannya yaitu Izam dan Abel mencari surga itu. Mereka bertiga bersepeda menyusuri jalan mencari surga itu hingga malam hari. Saya dan keponakan menjadi tertawa dibuatnya. Sungguh tergambar jelas sinetron ini menampilkan pikiran polos anak. Saya jadi bergumam,” ada yang beda dengan sinetron ini” karena menampilkan karakter asli anak-anak. Sinetron yang tidak sekedar menghibur bagi anak-anak tapi juga untuk orang dewasa dan sinetron ini juga berunsur pendidikan, dibanding sinetron-sinetron yang selama ini wara-wiri di layar TV kita.
Baim yang diperankan oleh Ibrahim Khalil Alkatiri di sinetron ini berperan sebagai seorang anak kecil yang divonis dokter mempunyai penyakit kelainan sel otak akan tetapi dia adalah anak kecil yang luar biasa yang menyayangi bundanya. Dia adalah anak kecil yang sangat baik dan ramah yang menghibur semua orang yang ada di sekitarnya.
Jadi, peran yang dibawakan oleh si Baim mempunyai efek positif bagi si anak ketika menonton sinetron ini yaitu memberi pendidikan kepada anak untuk selalu menyayangi ibu. Terlebih bagi anak-anak yang belum bisa membedakan antara yang baik dan buruk. Sinetron ini cocok dan sangat sesuai dengan keadaan psikologi anak. Itu dapat terlihat dari setiap sketsa dan jalan cerita yang saya ikuti. Begitulah sedikit gambaran dari sinetron Buku Harian BAIM ini. Jadi sinetron ini bisa menjadi referensi para orangtua untuk memberikan tontonan sehat pada anak.
Kehadiran sinetron anak ini telah memberikan warna berbeda dalam layar televisi kita yang selama ini dibanjiri warna-warni sinetron cinta. Selain itu juga menyehatkan tontonan anak selama ini yang sudah banyak terkontaminasi oleh sinetron dewasa.
Saya berharap ini tidak berakhir disini, karena bangsa ini masih membutuhkan sineas-sineas yang masih peduli pada anak negeri. Yang menciptakan karya-karya yang mendidik bagi calon pemegang tongkat estafet pemerintahan bangsa. Semoga ini bukan karya terakhir para sineas sebagai sumbangan pada anak Indonesia.

DMW : Si Melek Media

Televisi adalah media yang paling dekat dengan semua kalangan, dari tua, muda, anak-anak atau pekerja, pelajar dan ibu rumah tangga. Televisi sekarang menyajikan banyak acara untuk menghibur penontonnya dari acara sinetron, reality show,berita hingga acara musik. Banyak acara yang ada itu juga membuat stasiun TV kadang lalai akan acaranya, kadang mereka melakukan pelanggaran penyiaran misalnya dalam segi etika.
Terus apa hubungannya DMW dengan pelanggaran siaran televisi? Maksudnya dengan melek media apa? Itu pasti menjadi pertanyaan bagi yang pertama mendengar nama DMW. Ya, DMW adalah sebuah lembaga kecil yang ingin mengajak kita semua mahasiswa untuk lebih peduli pada tontonan Televisi. DMW singkatan dari Diponegoro Media Watch, sebuah Badan Semi Otonom (BSO) dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi Fisip UNDIP.
DMW hadir sebagai sebuah lembaga yang kegiatannya memantau media misalnya tentang konten sinetron dan tayangan iklan. Bekerja sama dengan Komisi Penyiaran Daerah (KPID) Jawa Tengah, DMW tidak sendiri untuk mengemban misinya. Dari kalangan mahasiswa DMW ingin mulai mengepakkan sayap misinya yaitu “Selangkah Lebih Maju”.
Sejauh ini kegiatan DMW yang sudah terlaksana di tahun 2009 kemarin adalah Roadshow di semua Fakultas di kampus Pleburan tentang Diet Sinetron. Dari rodshow itu antusias para mahasiswa cukup menggembirakan terlebih kegiatan itu diliput oleh banyak kawan media.
Jadi buat kalian yang pengen tahu lebih banyak dan kenal lansung dengan DMW bisa gabung lewat facebook dengan alamat diponegoro_mw@yahoo.co.id atau lewat blognya diponegoromediawatch.org.